“Tubuhmu bisa tersenyum, tapi hatimu mungkin sedang menjerit.”
— kutipan dari seorang remaja dalam sesi konseling di Jakarta, November 2023.
Ia duduk tenang, mengenakan seragam sekolah yang rapi, dan menjawab pertanyaan gurunya dengan sopan. Tak ada yang tampak ganjil dari luar. Namun, di ruang sempit pikirannya, ada suara menekan dirinya setiap hari. Bukan suara orang lain, tapi suara sendiri, yang menuduh, menuntut, dan tak memberi ampun.
Di Indonesia, kesadaran kesehatan mental belum sepenuhnya menyatu dalam kesadaran publik, apalagi kebijakan. Meski angka prevalensi depresi dan gangguan mental lainnya terus naik, perhatian terhadap sisi tak kasatmata dari manusia ini masih tertinggal. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, sekitar 6,1% masyarakat usia 15 tahun ke atas mengalami depresi. Artinya, satu dari enam belas orang hidup dalam beban emosi yang sering tak terlihat, tak terdengar, dan tak terawat.
Isu kesehatan mental kerap muncul sebagai bagian dari narasi perempuan dan keluarga. Namun, kenyataan menunjukkan masalah ini menembus batas usia, gender, dan status sosial. Bahkan remaja, kelompok yang secara stereotip dianggap kuat dan adaptif, menunjukkan angka gangguan yang mengkhawatirkan—1 dari 20 remaja usia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental, sebagian di antaranya mempertimbangkan bunuh diri.
Lebih jauh lagi, sistem kesehatan Indonesia belum cukup kuat menangani ini. Hanya 1.220 psikiater melayani lebih dari 270 juta penduduk, satu psikiater untuk setiap 300.000 jiwa. Layanan konseling berbasis komunitas belum merata, sementara stigma membuat banyak individu memilih diam. “Malu, takut, lalu diam,” menjadi pola diam-diam yang umum ditemui.
Namun, diam itu menyimpan tekanan. Seperti rumah yang fondasinya retak perlahan, manusia yang terluka mentalnya tetap bisa berdiri, sampai satu hari ia runtuh.
Data dari Our World in Data menunjukkan bahwa proporsi penduduk Indonesia yang mengalami gangguan kesehatan mental nyaris stagnan selama satu dekade, sekitar 10%. Tapi gangguan emosional seperti kecemasan dan stres meningkat drastis: dari 6% pada 2013 menjadi 10,35% pada 2018. Schizophrenia pun naik hampir lima kali lipat. Semua ini terjadi tanpa lonceng peringatan yang cukup nyaring di ranah kebijakan.
Pandemi COVID-19 memperparah keadaan. Isolasi, kehilangan penghasilan, dan ketidakpastian hidup menjadi kombinasi tekanan yang meluas. Di balik layar ponsel dan rapat daring, banyak orang menyembunyikan kepanikan internal. Sejak saat itu, 80% masyarakat Indonesia menyatakan kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Namun, hanya 9% penderita depresi mendapatkan perawatan.
“Langkah kecil kita dapat menghasilkan kemajuan besar dalam kesehatan mental,” tulis sebuah kutipan dari Hari Kesehatan Mental Sedunia.
Tapi langkah kecil itu, di negeri ini, masih sering tersandung oleh stigma. Seorang perempuan muda yang baru keluar dari sesi terapi mengatakan, “Aku takut teman-temanku tahu aku ke psikiater. Mereka pasti pikir aku gila.”
Maka pertanyaannya: siapa yang benar-benar mendengar mereka?
Beberapa inisiatif mulai muncul dari akar rumput. Pada akhir 2023, lahir Community Caucus Caring for Mental Health—sebuah gerakan advokasi yang membangun jejaring edukasi dan pencegahan di beberapa kota. Di saat kekosongan layanan formal, komunitas ini mencoba menghadirkan ruang aman bagi mereka yang merasa kehilangan arah. Di tempat lain, sekolah-sekolah perlahan membuka ruang konseling. Tapi kapasitas masih jauh dari cukup.
Tentu, kesadaran bukan jaminan perubahan. Namun tanpa kesadaran, tak ada perubahan yang mungkin. Saat seseorang mengenali bahwa pikirannya lelah, ia butuh lingkungan yang tidak menyalahkan. Butuh narasi yang tidak memaksa “baik-baik saja” sebagai satu-satunya bentuk waras.
“Yang lelah bukan hanya tubuh. Pikiran juga bisa kehabisan napas,” ucap seorang guru BK di Bandung.
Ia melihat bagaimana murid-muridnya yang tampak ceria perlahan kehilangan semangat, tanpa sebab yang jelas.
“Dulu kami hanya menegur kalau nilai turun. Sekarang, kami harus belajar melihat lebih dalam,” katanya.
Kesadaran kesehatan mental bukan tentang tren atau jargon. Ia adalah kemampuan kolektif untuk mengenali luka yang tak berdarah, rasa sakit yang tak terucap, dan penderitaan yang tak memiliki bentuk. Ia adalah upaya memahami manusia secara utuh—bukan hanya apa yang tampak, tapi juga yang tersembunyi di balik senyum.
“Kesehatan mentalmu adalah segalanya—utamakannya,” tulis John Green, penulis yang juga hidup dengan gangguan kecemasan. Tapi bagaimana jika seseorang tak tahu bahwa pikirannya sedang butuh pertolongan?
Tubuh boleh saja baik-baik saja. Tapi kesehatan dalam diri mungkin sebaliknya.